innocence

innocence
foult

Senin, 03 Oktober 2011

Tugas KMB 1 Askep Bronchitis







Laporan Pendahuluan

Pengertian Bronkhitis

Definisi Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). Bronkitis akut sebenarnya merupakan bronko pneumonia yang lebih ringan. Penyebab Penyebabnya dapat virus, mikoplasma atau bakteri. Gambaran klinis · Batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan), sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan, sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu), bengek, lelah, pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan, wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan, pipi tampak kemerahan, sakit kepala, gangguan penglihatan. · Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, yaitu hidung berlendir, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan. · Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1 – 2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau. · Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3 – 5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu. · sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat. · Sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama setelah batuk. · Bisa terjadi pneumonia.

Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2, 1998, hal : 490).


Anatomi dan fisiologi sistem pernafasan




Anatomi sistem pernafasan

Saluran pernafasan bagian atas

Rongga hidung
Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Lendir disekresi secara terus menerus oleh sel – sel goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia. Hidung berfungsi sebagai penyaring kotoran, melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru – paru.

Faring
Adalah struktur yang menghubungkan hidung dengan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region ; nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Fungsi utamanya adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratoriun dan digestif.

Laring
Adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakhea. Fungsi utamanya adalah untuk memungkinkan terjadinya lokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.

Saluran pernafasan bagian bawah.

Trakhea
Disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk seperti sepatu kuda yang panjangnya kurang lebih 5 inci, tempat dimana trakea bercabang menjadi bronkus utama kiri dan kanan dikenal sebagai karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika dirangsang.

Bronkus
Broncus terdiri atas 2 bagian yaitu broncus kanan dan kiri. Broncus kanan lebih pendek dan lebar, merupakan kelanjutan dari trakhea yang arahnya hampir vertikal. Bronchus kiri lebih panjang dan lebih sempit, merupakan kelanjutan dari trakhea dengan sudut yang lebih tajam. Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang menjadi bronchus lobaris kemudian bronchus segmentaliis. Bronkus dan bronkiolus dilapisi oleh sel – sel yang permukaannya dilapisi oleh rambut pendek yang disebut silia, yang berfungsi untuk mengeluarkan lendir dan benda asing menjauhi paru menuju laring.

Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia. Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori yang menjadi saluran transisional antara jalan udara konduksi dan jalan udara pertukaran gas.

Alveoli
Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli. Terdapat tiga jenis sel – sel alveolar, sel alveolar tipe I adalah sel epitel yang membentuk dinding alveolar. Sel alveolar tipe II sel – sel yang aktif secara metabolik, mensekresi surfactan, suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps. Sel alveolar tipe III adalah makrofag yang merupakan sel – sel fagositosis yang besar yang memakan benda asing dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan penting.

Fisiologi sistem pernafasan
Pernafasan mencakup 2 proses, yaitu :
Pernafasan luar yaitu proses penyerapan oksigen (O2) dan pengeluaran carbondioksida (CO2) secara keseluruhan.
Pernafasan dalam yaitu proses pertukaran gas antara sel jaringan dengan cairan sekitarnya (penggunaan oksigen dalam sel).

Proses fisiologi pernafasan dalam menjalankan fungsinya mencakup 3 proses yaitu :
Ventilasi yaitu proses keluar masuknya udara dari atmosfir ke alveoli paru.
Difusi yaitu proses perpindahan/pertukaran gas dari alveoli ke dalam kapiler paru.
Transpor yaitu proses perpindahan oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh.

Etiologi
Adalah 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronchitis yaitu rokok, infeksi dari polusi. Selain itu terdapat pula hubungan dengan faktor keturunan dan status sosial.

Rokok
Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronchitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan VEP (volume ekspirasi paksa) 1 detik. Secara patologis rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus epitel saluran pernafasan juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut.

Infeksi
Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonie.

Polusi
Pulusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. Zat – zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis adalah zat – zat pereduksi seperti O2, zat – zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.

Keturunan
Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali pada penderita defisiensi alfa – 1 – antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru.

Faktor sosial ekonomi
Kematian pada bronchitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.

Patofisiologi
Penemuan patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari kelenjar mukosa bronchus dan peningkatan sejumlah sel goblet disertai dengan infiltrasi sel radang dan ini mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil – kecil sedemikian rupa sampai bronchiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar. Faktor etiologi utama adalah merokok dan polusi udara lain yang biasa terdapat pada daerah industri. Polusi tersebut dapat memperlambat aktifitas silia dan pagositosis, sehingga timbunan mukus meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri melemah.
Mukus yang berlebihan terjadi akibat displasia. Sel – sel penghasil mukus di bronkhus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan – perubahan pada sel – sel penghasil mukus dan sel – sel silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus dalam jumlah besar yang sulit dikeluarkan dari saluran nafas.






Manifestasi klinis

Keluhan
Batuk, mulai dengan batuk – batuk pagi hari, dan makin lama batuk makin berat, timbul siang hari maupun malam hari, penderita terganggu tidurnya.
Dahak, sputum putih/mukoid. Bila ada infeksi, sputum menjadi purulen atau mukopuruen dan kental.
Sesak bila timbul infeksi, sesak napas akan bertambah, kadang – kadang disertai tanda – tanda payah jantung kanan, lama kelamaan timbul kor pulmonal yang menetap.

Pemeriksaan fisik
Pada stadium ini tidak ditemukan kelainan fisis. Hanya kadang – kadang terdengar ronchi pada waktu ekspirasi dalam. Bila sudah ada keluhan sesak, akan terdengar ronchi pada waktu ekspirasi maupun inspirasi disertai bising mengi. Juga didapatkan tanda – tanda overinflasi paru seperti barrel chest, kifosis, pada perkusi terdengar hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih ke bawah, pekak jantung berkurang, suara nafas dan suara jantung lemah, kadang – kadang disertai kontraksi otot – otot pernafasan tambahan.

Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan radiologis
Tubular shadow atau traun lines terlihat bayangan garis yang paralel, keluar dari hilus menuju apeks paru. bayangan tersebut adalah bayangan bronchus yang menebal.
Corak paru bertambah

Pemeriksaan fungsi paru
VEP1 (Volume ekspirasi paksa 1 detik) : menurun.
KV (kapasitas vital) : menurun (normal   3,1 liter,   4,8 liter).
VR (volume residu) : bertambah (normal   1,1 liter,   1,2 liter).
KTP (kapasitas total paru) : normal (normal  4,2 liter,  6,0 liter).
KRF (kapasitas residu fungsional) : sedikit naik atau normal (normal   1,8 liter,   2,2 liter).

Analisa gas darah
Pa O2 : rendah (normal 25 – 100 mmHg)
Pa CO2 : tinggi (normal 36 – 44 mmHg).
Saturasi hemoglobin menurun.
Eritropoesis bertambah.

Penanganganan
Tindakan suportif
Pendidikan bagi pasien dan keluarganya tentang :
Menghindari merokok
Menghindari iritan lainnya yang dapat terhirup.
Mengontrol suhu dan kelembaban lingkungan.
Nutrisi yang baik.
Hidrasi yang adekuat.
Terapi khusus (pengobatan).
Bronchodilator
Antimikroba
Kortikosteroid
Terapi pernafasan
Terapi aerosol
Terapi oksigen
Penyesuaian fisik
Latihan relaksasi
Meditasi
Menahan nafas
Rehabilitasi

Prognosis
Prognosis jangka panjang maupun jangka pendek bergantung pada umur dan gejala klinik waktu berobat.


Asuhan Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.R

DENGAN BRONHITIS AKUT DI RUANG MIRAH

RSU Dr. SLAMET GARUT

A. Pengkajian

  1. Biodata Klien

Nama : An. R

Umur : 2 Thn

Alamat : Sanding

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Suku bangsa : Sunda / Indonesia

No Cm : 858285

Tgl masuk : 2 Januari 2005

Tgl pengkajian : 4 Januari 2005

  1. Biodata penanggung jawab

Nama : Tn C

Umur : 40 tahun

Alamat : Sanding

Jenis kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : Wiraswasta

Hub dgn klien : Ayah

B. Riwayat Kesehatan

  1. Keluhan utama

Menurut penuturan ibu klien,klien sering batuk-batuk berdahak,nafas sesak,dan badannya panas

  1. Riwayat kesehatan sekarang

Menurut penuturan ibu klien,+6 hari sebelum klien masuk rumah sakit,klien mengalami batuk bardahak namun dahaknya tidak keluar.Karena batuknya itulah nafas klien menjadi sesak dan badan klien panas.Ibu klien merasa khawatir dan langsung membawanya ke rumah sakit untuk berobat.Akhirnya ibu klien membawanya ke poliklinik anak RSU Dr. Slamet Garut dan oleh dokter dianjurkan untuk di rawat dan pada saat itu juga klien dirawat di ruang mirah.Pada saat pengkajian tanggal 4 January 2005,ibu klien masih mengeluh anaknya batuk-batuk,badannya masih panas namun nafasnya tidak terlalu sesak.Klien akan mengalami sesak jika klien selesai menangis dan batuknya hilang jika klien tidur dengan setengah duduk.Dahak klien belum bisa dikeluarkan dan panas tubuh klien belum turun.

3 Riwayat kesehatan dahulu

Menurut penuturan ibu klien,sebelumnya klien belum pernah mengalami penyakit seperti yang diderita klien sekarang.Klien pernah demam selama 3 hari yang lekas sembuh setelah berobat ke puskesmas

No

Nama Penyakit

Pernah

Tidak Pernah

Keterangan

1.

2.

3.

4.

5,

6,

Penyakit kuning

Panas tinggi

Batuk-batuk yang lama

Sesak nafas

Diare

Muntah-muntah

-

Ö

-

-

-

-

Ö

-

Ö

Ö

Ö

Ö

-

Selama 3 hari,1 tahun yang lalu

-

-

-

-

4 . Riwayat kesehatan keluarga

Menurut penuturan ibu klien,diantara anggota keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit menular maupun penyakit yang sama seperti klien.








Keterangan :

: Laki-laki


: Perempuan


: Klien

Klien adalah anak ke 3 dari 3 bersaudara,klien tinggal bersama kedua orang tuanya.

  1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

a. Prenatal

Ibu klien mengatakan bahwa selama hamil selalu memeriksakan diri ke bidan terdekat.Ibu klien mengatakan di imunisasi TT 2x pada bulan ke 6 dan 9.Ibu klien tidak mengeluh apapun selama hamil.

b. Intra natal

Menurut penuturan ibu klien, klien dilahirkan dengan vacum dan di lahirkan di RSU Dr Slamet Garut.

c. Post natal

Ibu klien mengatakan bahwa saat lahir,BB klien 2700 kg dengan panjang badan 49 cm.

  1. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

a. Riwayat Pertumbuhan

BB lahir : 2700 gr

PB lahir : 49 cm

Lingkar kepala : 38 cm

Lingkar lengan atas : 15 cm

b. Riwayat Perkembangan

1. Perkembangan motorik halus

Klien dapat mengangkat kepala,tengkurap,duduk tanpa di bantu dan dapat berdiri dan berlari

2. Perkembangan bicara

Klien dapat mengoceh spontan dan memanggil orang tuanya

3. Perkembangan motorik kasar

Klien dapat menahan barang dan menggenggamnya dengan erat dan juga mampu memindahkannya ke tempat lain.

  1. Riwayat Nutrisi

Menurut penuturan ibu klien, dari mulai 1-4 bulan ,klien di beri ASI eksklusif dan setelahnya klien di beri PASI.

  1. Riwayat Imunisasi

Klien sudah mendapatkan imunisasi lengkap.

C. PEMERIKSAAN FISIK

a. Keadaan umum

BB saat dikaji : 8 Kg

PB : -

TTV : P : 100x/menit

R : 43x/menit

S : 38,5 ° c

b. Integumen

v Rambut

Warna : Hitam

Tekstur : Halus

Penyebaran : Merata di seluruh permukaan kulit kepala

v Kulit

Warna : Kuning langsat

Turgor : Baik

Kebersihan : Tidak ada kotoran

v Kuku

Warna : Transparan

Kebersihan : Tidak ada kotoran

Tekstur : Halus

Sudut : 160o

c. Kepala

Lingkar kepala : Tidak terkaji

Kesimetrisan : Tegak lurus dengan garis tengah tubuh

d. Leher

KGB : Tidak membesar

JVP : Tidak meninggi

Kebersihan : Tidak nampak adanya kotoran

e. Mata

Kesimetrisan : Mata kiri dan kanan klien simetris

Konjungtiva : Pucat

Pupil : Hitam

Kebersihan : Tidak nampak kotoran

Fungsi penglihatan : Dapat melihat benda yang di gerakan di depan mata nya

Pergerakan : Dapat melihat ke segala arah

f. Telinga

Kesimetrisan : Telinga kanan dan kiri klien simetris

Kebersihan : Tidak nampak adanya kotoran

Fungsi pendengaran: Berespon saat di panggil

g. Hidung

Kesimetrisan : Kedua lubang hidung simetris

Kebersihan : Tidak nampak kotoran

Warna : Sama dengan kulit wajah

Fungsi penciuman : Dapat membedakan bau minyak wangi dan alkohol

h. Mulut

v Bibir

Warna : Kecoklatan

Stomatitis : Tidak ada

v Lidah

Warna : Merah muda

Pergerakkan : Tak terkaji

i. Dada

Pergerakkan : Dada kiri dan kanan bergerak selaras

Pernapasan : Cepat dan dangkal

Bunyi napas : Ronchi

Kebersihan : Tidak tampak kotoran

j. Abdomen

Keadaan : Cembung

Kebersihan : Tidak nampak adanya kotoran

Bising usus : 7x/mnt

k. Punggung

Keadaan : Tidak nampak adanya kelainan

Kebersihan : Tidak nampak adanya kotoran

l. Genetalia

Kebersihan : Tidak nampak adanya kotoran

Keadaan : Tidak tampak adanya benjolan

m. Ekstremitas

Atas : Tangan kanan terpasang infus sehingga kurang leluasa bergerak,tangan kiri dapat bergerak bebas.

Bawah : Tidak nampak adanya pembengkakan,kedua kaki dapat digerakkan sesuai dengan keinginan.

POLA AKTIVITAS SEHARI HARI

No

Pola aktivitas sehari-hari

Saat sakit

Saat sehat

1.

2.

3.

4.

Pola nutrisi

a. Makan

- frekuensi

- jumlah

- jenis

b. minum

- jenis

- frekuensi

- jumlah

Eliminasi

a BAB

- frekuensi

- konsistensi

- warna

- bau

b BAK

- frekuensi

- warna

- bau

Istirahat tidur

- tidur malam

- tidur siang

- kualitas

Personal higiene

- mandi

- ganti baju

2x/hr

2-3 sendok

bubur nasi

air putih + ASI

ASI + 5-7x/hr

2 gelas/hari

belum BAB

-

-

-

5-6x/hr

kuning jernih

khas amoniak

6-7 jam/hr

1-2 jam/hr

tidak nyenyak

1x/hr

3-4x/hr

3x/hr

1 porsi kecil

nasi + laukpauk

air putih + ASI

ASI sesuka klien

2 gelas

1-2x/hr

½ padat

kuning kecoklatan

khas feces

5-6x/hr

kuning jernih

khas amoniak

8-10 jam /hr

2-3 jam / hr

nyenyak

2x/hr

3-4x/hr

D. Data Psikologis, Sosial dan Spiritual

- Data Psikologis

Belum bisa dikaji tingkat kecemasan klien,tetapi ibu klien tampak cemas dan selalu bertanya-tanya tentang keadaan anaknya.ekspresi wajahnya tampak tegang dan gelisah.

- Data Sosial

Baik, terbukti ada anggota keluarga klien yang menjenguknya.

- Data Spiritual

Klien beragama islam,ibu klien selalu berdo’a agar anaknya lekas sembuh.

E. Data Penunjang

- Dx medis : Bronkhitis akut

- Therapy : * Infus ka-en 4a 15 tetes/mnt

· Sanficilln 4x200mg

· Sagestam 2x15 mg

· Dexametason 3x15 mg

· O2 1 ltr/mnt

F. Analisa Data

No

Sympthom

Etiologi

Problem

1.

2.

3.

Ds : -

Do :

- Klien tampak lemah

- BB 1000 gr

- Klien tidak mau menetek

Ds : -

Do :

- Tali pusat masih tampak basah

Ds : -

Do : Suhu tubuh 38,5° c

Klien tidak mau menetek è asupan nutrisi kurang è gangguan pola nutrisi è klien tampak lemah è BB klien kurang

Tali pusat baru dipotong è masih tampak basah è potensial terjadinya infeksi

Klien belum beradaptasi dengan lingkungan luar è potensial mengalami gangguan pengaturan suhu tubuh

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

Resiko tinggi terjadinya infeksi

Resiko tinggi terjadinya hipotermi

G. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas Masalah

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubung dengan klien tidak mau menetek yang ditandai dengan :

Ds : -

Do : - Klien tampak lemah

- BB 1000 gr

- Klien tidak mau menetek

2. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubung dengan tali pusat yang masih basah yang ditandai dengan :

Ds : -

Do : Tali pusat masih tampak basah

3. Resiko tinggi terjadinya hipotermi berhubung dengan belum dapat beradaptasi dengan lingkungan luar yang ditandai dengan :

Ds : -

Do : Suhu tubuh 38,5 ° C


PROSES KEPERAWATAN

Nama : An. R Ruang : Mirah

Umur : 2 thn No Cm : 858285

Jenis kelamin : Laki-laki DM : Bronchopneumonia

No

Diagnosa Keperawatan

P E R E N C A N A A N
IMPLEMENTASI
EVALUASI

Tujuan

Intervensi

Rasionalisasi

1

2

3

4

5

6

7

1.

2.

3.

Ketidak efektifan jalan nafas sehubungan dengan peningkatan produksi sekret yang ditandai dengan :

Do :

- Ibu klien mengatakan bahwa klien sering batuk-batuk berdahak namun dahaknya tidak keluar

Ds : - R : 43x/mnt

- Terpasang O2

- Bunyi nafas ronchi

- Klien tampak batuk-batuk

Gangguan pengaturan suhu tubuh berhubungan dengan reaksi tubuh terhadap peradangan yang ditandai dengan :

Do :

- Ibu klien mengatakan anaknya demam

Ds : - Suhu tubah klien 38,5oC

Gangguan rasa aman cemas sehubungan dengan kurangnya informasi ibu tentang keadaan anaknya yang ditandai dengan :

Do :

- Ibu klien sering bertanya-tanya tentang keadaan anaknya

Ds : - Ibu klien tampak cemas dan gelisah

Dalam waktu 3 hari jalan nafas kembali efektif dan teratasi dengan kriteria :

- R : 20-40x/mnt

- Bunyi nafas halus

- Klien tidak batuk-batuk

- Tidak terpasang O2

- Dahak klien keluar

Dalam waktu 3 hari gangguan pengaturan suhu tubuh teratasi dengan kriteria :

- Suhu tubuh klien 36-37oC

Dalam waktu 3 hari gangguan rasa aman cemas teratasi dengan kriteria :

- Secara verbal ibu klien tidak selalu bertanya-anya tentang keadaan anaknya

- Ibu klien tampak tenang

- Atur posisi tidur klien dengan posisi semi fowler

- Longgarkan pakaian yang dapat menghambat proses pernafasan klien

- Pertahankan pemberian O2

- Lakukan suction

- Kompres dengan air dingin

- Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat

- Observasi suhu tubuh klien

- Berikan penjelasan tentang keadaan anaknya

- Berikan support mental

Ø Dengan posisi semi fowler diharapkan dapat mengurangi penekanan pada daerah abdomen sehingga klien dapat benafas dengan bebas

Ø Dengan melonggarkan pakaian klien,diharapkan jalan nafas klien dapat berjalan lancar dan klien dapat bernafas bebas

Ø Dengan mempertahankan pemberian O2,akan membantu peningkatan oksigenasi klien

Ø Dengan suction diharapkan dahak klien dapat keluar

Ø Dengan mengompres meggunakan air dingin,diharapkan panas tubuh klien akan menurun

Ø Dangan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat,diharapkan uap tubuh klien dapat keluar dan panas tubuh klien berkurang

Ø Dengan mengobservasi suhu tubuh klien,diharapkan pekembagan suhu tubuh klien dapat terkontrol

Ø Dengan memberikan penjelasan diharapkan ibu klien mengetahui dan mengerti tentang keadaan anaknya da tidak selalu bertanya-tanya tentang keadaan anaknya

Ø Dengan memberikan support mental diharapkan ibu klien bersemangat lagi untuk mengurus anaknya dan tidak gelisah lagi

Tgl 04 januari 2005 Jam 08.00 WIB

Melonggarkan pakaian yang dapat menghambat proses pernafasan klien

Jam 08.15 WIB

- Mengatur posisi tidur klien dengan posisi semi fowler

- Mempertahankan pemberian O2

Jam 09.30 WIB

Melakukan suction

Tgl 4 januari 2005 Jam 08.30 WIB

- Mengompres dengan air dingin

- Menganjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat

Jam 08.45 WIB

Mengobservasi suhu tubuh klien

- suhu tubuh klien 38,5oC

Tgl 04 Januari 2005

Jam 10.00 WIB

Memberikan penjelasan tentang keadaan anaknya

Jam 11.15 Wib

Memberikan support mental

Tgl 04 Januari 2005

Jam 14.00 WIB

- Bunyi nafas klien masih ronchi

- Klien masih tampak batuk namun sedikit

- O2 masih terpasang

- Dahak klien keluar

- Ketidak efektifan jalan nafas teratasi sebagian

Tgl 4 Januari 2005 jam 14.00 WIB

- Suhu tubuh klien menurun sampai 38oC

- Gangguan pengaturan suhu tubuh teratasi sebagian

Tgl 04 januari 2005 Jam 14.00 WIB

- Ibu klien tampak sedikit tenang

- Ibu klien tampak tidak selalu bertanya-tanya tentang keadaan anaknya.

- Gangguan rasa aman cemas teratasi

REFERENSI

1.Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, ; alih bahasa, Agung Waluyo; editor Monica Ester, Edisi 8, EGC; Jakarta.

2. Asuhan Keperawatan pd Pasien dgn Gangguan Sistem Pernapasan Oleh Irman Somantri

3.Carolin, Elizabeth J, Buku Saku Patofisiologi, EGC, Jakarta, 2002.

4.Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ; alih bahasa, I Made Kariasa ; editor, Monica Ester, Edisi 3, EGC ; Jakarta.

5.Tucker, Susan Martin, 1998, Standar Perawatan Pasien; Proses Keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi 5, EGC, Jakarta.



PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan Bronkhtis akut?
2. Bagaimana sebab terjadinya Bronkhitis akut?
3. Bagaimana patofisiologis pada penykit Bronkhitis akut?
4. Apa therapy obat yang basa diberikan pada pasien dengan Bronkhitis akut?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada kasus Bronkhitis akut?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar